Rabu, 18 Februari 2015

KETIKA MORAL DIRACUNI KEMAKSIATAN PERKOTAAN

"Kota besar tempatnya orang-orang mempertaruhkan nasibnya" Itu yang gue pikirin waktu ngeliat Jakarta yang tiap tahunnya kedatangan perantau dari berbagai tempat di Indonesia. Gak usah jauh-jauh, tempat gue tinggal sekarang (Banjarmasin) udah jadi tempat para perantau mengadu nasib. Entah untuk cari kerja ataupun sekedar kuliah. Tapi gue bersyukur, dikota ini lah gue bisa bersilaturahmi sama berbagai orang-orang yang dari tempat jauh.
Foto yang gue temuin di Google ini adalah gedung yang keren di Banjarmasin
Gue suka sama mereka, sopan banget. Tapi bukan berarti kaum gue banyak yang gak sopan, sebagian dari kami sopan kok (Iya, sebagian).

Perlu gue ceritain, waktu SMP, gue dulu pernah tinggal dikota yang tidak terlalu besar dan jauh dari Banjarmasin, ya bisa dibilang adalah tempat yang melekat dengan nuansa religius. Gue punya temen juga disana (Yaiyalah). Tapi udah lama banget ya kalo ngomongin SMP dulu. Kita sekarang dimasa dewasa. Dan dimasa dewasa ini, banyak temen-temen SMP gue dulu yang pindah ke Banjarmasin buat ngelanjutin kuliah. Dan sekarang, kebanyakan dari mereka kejebak naluri kota, bukan temen-temen gue aja sih, orang lainpun pastinya bisa aja kejebak. Seperti kejebak sama nuansa diskotik, karena sebelumnya mereka gak pernah ngerasain itu. Masalah narkobapun bisa dengan mudah meracuni mereka. Bahkan, pergaulan bebaspun gak luput dari incaran mereka. Tapi gak semua temen smp gue dulu lo yang kejebak, ada sebagian temen gue yang gak kejebak (Iya, sebagian :D)

Diatas kita ngebicarain remaja yang dari stabil jadi Labil. Terus gimana bagi perantau yang mengadu nasib, untuk rezekinya?

Cenderung lebih banyak yang gak beruntung daripada yang beruntung. Yang udah beruntung, gue ucapin selamat menggunakan bahasa Banjar "Nah, kambang gasan pian".

Kembali gue bertanya “Gimana kalau yang gak beruntung? Walaupun gue denger ini cuma sekedar gosip, tapi WOW banget menurut gue. Tau gak, ada gosip seorang perantau, yang akhirnya menjadi germo, bahkan ada yang menjadi pelacur, dan adapula yang menjadi pengedar narkoba. Astagfirullah.

Itu bukan bagaimana kita menjadi air yang mengalir jernih ataupun mengalir keruh. Tapi bagaimana kita membuat air itu mengalir ke arah yang seharusnya.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar