Apa yang lo pikirin saat ngeliat orang yang ditangannya
bertato, pasti "apakah dia preman?" Gak usah mikir jauh-jauh dan gak
usah naif kalau kita gak mikir demikian.
Itu yang gue pikirin saat servis jok, dikawasan
Handil Bakti, Kalimantan selatan. Gue ngeliat seorang Bapak tukang servis yang
terlihat kekar, lengkap dengan lengan bertatonya. Tatonya itu lo, yg bikin gue
kepikiran sama preman-preman Pasar Lama kawasan Banjarmasin. Seperti yang gue
bicarain sebelumnya, tato sama preman berbanding lurus. Kalo preman tanpa tato,
itu rasanya kaya bayi tanpa dot dimulutnya.
| Sumber : Google |
Kombinasi
antara tato dan bapak servis jok ini lah yang membuat gue berpikir bahwa bapak
ini sebelumnya adalah seorang preman yang mungkin hasil nafkahnya dulu dari
malakin anak SD dan sekarang dia udah insyaf dan memilih hijrah menjadi tukang
Jok. Tapi jika beneran, sungguh luar biasa pilihan ini. Temen gue si Badrudin pernah berkata bahwa "preman
sudah merasakan pahit manisnya kehidupan" (dalam banget kata-katanya, kaya
dia pernah aja jadi preman). Menurut gue kehidupan gue yang paling pahit saat
gue nelen paramek tanpa air hahahhaa (gak lucu)
Tapi
kalau dipikir-pikir bapak bertato ini memilih bekerja halal dengan service jok,
adalah pilihan yg bijak. Walaupun hasil yg didapatkan tidak banyak, tapi dia
tetap menikmati (gue gak tau bapak ini menikmati atau engga).
Halal dan benar, itu memang susah. Beberapa
orang mungkin berpikir bahwa mikirin itu cuma buang-buang waktu. Mereka (kita)
menyepelekan hal demikian, tapi tak mengaku bahwa yg diperbuat salah. Penjahat
kok gak ngaku bahwa dia (dibaca : kita) penjahat.
Orang miskin memang kadang gak mikir dalam
berbuat, tapi orang yg serba mampu gak mikir dalam berbuat. Itu keterlaluan.
Yaudah, kita cuma perlu ngambil kesempatan yg
kita dapetin. Dan mikir kaya bapak yg kita ceritain diatas. Oke.
suaradarijalanan.blogspot.com
Tidak ada komentar :
Posting Komentar