Senin, 05 Januari 2015

BAPAK TUA BERTATO DAN PEKERJAAN HALALNYA

Apa yang lo pikirin saat ngeliat orang yang ditangannya bertato, pasti "apakah dia preman?" Gak usah mikir jauh-jauh dan gak usah naif kalau kita gak mikir demikian.

     Itu yang gue pikirin saat servis jok, dikawasan Handil Bakti, Kalimantan selatan. Gue ngeliat seorang Bapak tukang servis yang terlihat kekar, lengkap dengan lengan bertatonya. Tatonya itu lo, yg bikin gue kepikiran sama preman-preman Pasar Lama kawasan Banjarmasin. Seperti yang gue bicarain sebelumnya, tato sama preman berbanding lurus. Kalo preman tanpa tato, itu rasanya kaya bayi tanpa dot dimulutnya.

Sumber : Google
Kombinasi antara tato dan bapak servis jok ini lah yang membuat gue berpikir bahwa bapak ini sebelumnya adalah seorang preman yang mungkin hasil nafkahnya dulu dari malakin anak SD dan sekarang dia udah insyaf dan memilih hijrah menjadi tukang Jok. Tapi jika beneran, sungguh luar biasa pilihan ini. Temen gue si Badrudin pernah berkata bahwa "preman sudah merasakan pahit manisnya kehidupan" (dalam banget kata-katanya, kaya dia pernah aja jadi preman). Menurut gue kehidupan gue yang paling pahit saat gue nelen paramek tanpa air hahahhaa (gak lucu)

Tapi kalau dipikir-pikir bapak bertato ini memilih bekerja halal dengan service jok, adalah pilihan yg bijak. Walaupun hasil yg didapatkan tidak banyak, tapi dia tetap menikmati (gue gak tau bapak ini menikmati atau engga).

     Halal dan benar, itu memang susah. Beberapa orang mungkin berpikir bahwa mikirin itu cuma buang-buang waktu. Mereka (kita) menyepelekan hal demikian, tapi tak mengaku bahwa yg diperbuat salah. Penjahat kok gak ngaku bahwa dia (dibaca : kita) penjahat.

Orang miskin memang kadang gak mikir dalam berbuat, tapi orang yg serba mampu gak mikir dalam berbuat. Itu keterlaluan.

     Yaudah, kita cuma perlu ngambil kesempatan yg kita dapetin. Dan mikir kaya bapak yg kita ceritain diatas. Oke.

suaradarijalanan.blogspot.com

Tidak ada komentar :

Posting Komentar