Sabtu, 04 Juli 2015

PERKAMPUNGAN PINGGIRAN REL KERETA API

Saat ini gue menuju kota tua yang ada di kota Jakarta, gue duduk didalam kereta api bersama beberapa temen yang sudah lama tinggal di Jakarta. Diperjalanan gue merasa nyaman, suasananya seperti di Jepang (Gue gak pernah ke Jepang).

Tiba-tiba saja pandangan tertuju disuatu tempat. Suatu tempat yang sering menjadi sasaran penggusuran satpol pp dan penggusuran itu sering gue lihat di berita televisi. Secara mendadak gue namain tempat itu adalah PERKAMPUNGAN PINGGIRAN REL KERETA API.

"Kebanyakan mereka yang tinggal disana adalah perantauan yang kebingungan setelah sampai di Jakarta. Bahkan, sekarang mereka banyak menjadi pengemis jalanan. Tanah yang mereka tinggali, adalah tanah tanpa surat" Salah satu temen diperjalanan ini memberikan informasi ke gue.

Banyak yang berpikir TINGGAL DI IBU KOTA ADALAH SALAH SATU JALAN MENUJU KESUKSESAN, tidak semuanya hal itu benar. Kota besar itu terlalu keras. Seseorang yang mempunyai bekal dari kampungnya saja di Jakarta bisa jadi lonte, apalagi yang gak punya bekal. Tapi, kalau ke Jakarta membawa bekal takdir, boleh juga sih sebagai alternatif hidup atau mati?

Mengingat kembali penduduk pinggiran kereta api, gue berpikir "Nenek moyang mereka yang sebelumnya merantau dan akhirnya sampai di Jakarta. Tapi sayangnya mereka gagal, dan menempati dan bahkan menciptakan perkampungan pinggiran rel kereta api lalu menempatinya." Itu artinya, mereka akan berkembang biak disana. Dan seterusnya akan menjadi kebiasaan. Kalau begitu caranya, penggusuran akan terus menjadi tontonan biasa dimata masyarakat Indonesia.

Sabtu, 27 Juni 2015

BAGAIMANA NEGARA MAJU, JIKA RAKYATNYA MEMBENCI PRESIDENNYA

Kadang gue sendiri kebingungan waktu melihat salah seorang masyarakat mengolok-ngokok presiden. Apa sebenarnya yang dia pikirkan? Tapi, gue harus sadar bahwa "Wajar ketidakpuasan masyarakat terhadap pimpinannya digambarkan dengan perkataan yang keluar dari mulutnya".

Hal itu gue liat bukan hanya secara langsung, tapi gue liat dibeberapa media sosial seperti bm misalnya. Kenapa itu terjadi? Gak tau.

Nah inilah yang menjadi masalah!

Kalau menurut gue sih, keberhasilan suatu negara bukan dari Presidennya. Tapi, keberhasilan suatu negara itu tergantung kerjasama antara Presiden dan rakyatnya.

Nah, kalau dilihat saat ini, Indonesia banyak terjadi pertentangan antara Presiden dan Rakyat. Pengolok-olokkan terjadi. Sehingga Visi dan Misi dari presiden enggan ditaati rakyatnya sendiri. Dan visi misi presiden tersebut bakalan dilupakan sesaat, "malangnya nasibmu."

Terus bagaimana solusinya? Gak tau.

Seperti biasa, solusinya ada pada kesadaran diri kita masing-masing. Hehehe.

Ini gue dapet foto, dari bm.

Sabtu, 20 Juni 2015

OVER PENDUDUK

Ketika suatu kota semakin maju, maka kota tersebut akan semakin banyak penduduknya. Lama-kelamaan, sebuah kota akan dipenuhi orang-orang dari berbagai penjuru.

Bagimana kalau seandainya suatu kota tersebut "over penduduk"? Ya tentunya akan kita lihat hal-hal yang tidak nyaman untuk dipikirkan. Akan ada kemacetan, pengangguran dimana-mana, bahkan pengemispun berkeliaran dimana-mana. Teori itu cuma teori dibuat-buat, jangan dianggap serius.

Tapi, untuk "macet" sepertinya masuk akal. Bisa kita lihat seperti Jakarta yang sering macet, kurang lebih disebabkan karena penduduknya yang over. Sebagai kiasan "Banjarmasin yang masih berkembang saja sudah macet dimana-mana, apalagi Jakarta sebagai kota maju di Indonesia."

Segala upaya pemerintah untuk menanggulangi hal itu sudah dilakukan, tetapi itu harus didukung oleh masyarakatnya juga. Kalau gue sih, mendukung terus. Jadi kita semua harus ikut serta dan mendukung apa yang dilakukan pemerintah. Jadi, pemerintah dan masyarakat perlu saling mendukung.

Terus pemerintahnya juga, harus menggunakan APBD dengan semestinya.
Tapi masyarakat gak usah deh, cuek-cuekan dan berpikir "Bukan tugas kita".

(Gambar dibawah adalah saat macet panjang disekitaran Jl. A. Yani Banjarmasin Kalimantan Selatan)

SUARA JALANAN - TENTANG KEHIDUPAN

https://youtu.be/fambQ8l-qN0

Minggu, 14 Juni 2015

AKTIFIS BANJARMASIN YANG MENYUARAKAN "SAVE SERIBU SUNGAI"

Minggu pagi di kawasan siring Banjarmasin.

"SAVE SERIBU SUNGAI"

Itulah yang gue liat ditengah sungai besar kota Banjarmasin. Spanduk besar yang bertuliskan hal diatas yang ditarik sebuah perahu kayu dilengkapi 2 orang aktifis.

Pemandangan ini, yang gue anggap itu adalah sebuah perjuangan. Perjuangan untuk menentang mereka para masyarakat yang cuek bebek akan kebersihan sungai yang mengakibatkan pencemaran sungai, penyempitan sungai bahkan sampai penghilangan sungai sekalipun.

Seharusnya sebagai warga Banjarmasin, kita harus menjaga karakter kota kita. Ya dengan memelihara dan bersikap baik akan tempat kita tinggal. Eh malah, kebanyakan dari kita menganggap, sungai di Banjarmasin adalah tempat sampah.

Stop Goblok!! SAVE SERIBU SUNGAI!! Hehe

Rabu, 25 Maret 2015

PAPAN KETERANGAN TANAH SENGKETA DI JALAN VETERAN YANG BARU DIGUSUR

Gue liat penggusuran panjang dijalan veteran. Kaya habis kebakaran, terus bikin tata kota disana jadi jelek banget. Tapi, ini awal untuk tata kota yang lebih baik.

Ada hal yang ngebuat gue tertegun dijalan veteran tersebut. Disebabkan saat ngeliat papan. Ya papan. Agak sedikit aneh ya jadi ngebahas papan. Tapi maksud gue adalah papan keterangan yang ada tulisannya. Yang tertanam dengan tegak dibeberapa tanah gusuran disepanjang jalan veteran tersebut. Oiya, untuk jalan veteran letaknya deket Kota Banjarmasin Kalimantan Selatan.

Gue ngeliat papan tersebut bertuliskan "Tanah Sengketa, sedang diperadilkan di Pengadilan Negeri Banjarmasin" ya sejenis kaya gitulah. Sebenarnya geram sih ngeliat kaya gituan. Gue berpikir kaya gini "Pasti harga yang dibayar pemerintah kepemilik tanah yang bersangkutan kurang menarik. Kok demi tata kota yang lebih baik malah itung-itung an sih".Kalo logikanya, pemerintah bakalan menghargai sesuai pangsa pasar untuk pembelian tanah tersebut.

Hmmm, mungkin kaya gini. Sang pemilik tanah berpikir "Pemerintah zaman sekarang terlalu banyak yang korupsi. Jadi dalam hal ini, daripada uangnya ditotol pemerintah, mending gue mahalin aja nih harga tanah". Imez pemerintah sudah buruk dimata rakyat.

Tapi bisa ajakan hal yang kita bicarain diatas terjadi karena pemilik tanah gak mempunyai surat-menyurat tanah yang lengkap. Dan hal diatas akan tetap menjadi ambigu hehe

Sabtu, 07 Maret 2015

PIKIRKANKANLAH JUGA PARA KARYAWAN SWASTA WAHAI PEMERINTAH

"Enaknya kerja. Punya penghasilan sendiri. Belanja sesukanya. Pokoknya bebas. Dan setiap apa yang kita perjuangin, pasti ada hasilnya"

Itulah kebanyakan pemikiran yang dipikirin waktu kita sekolah dulu. Walaupun lo mengelak, bahwa lo pernah mikirin itu. Tapi coba tanya temen lo, pasti pernah mikirin itu. Kalo temen lo mengelak juga bahwa dia mikirin itu, coba tanyain temennya temen lo. Kalo temennya temen lo juga mengelak gak mikirin itu, coba tanyain temennya dari temennya temen lo. Tapi kalo masih mengelak juga, coba tanyain temennya dari temennya dari temennya dari temennya temen lo. Kaya gitu terus sampai kiamat.

Gak usah dibicarain.

     Dunia pekerjaan emang menyenangkan. Dan akan lebih menyenangkan saat akhir bulan. Pasti lo faham.

     Gue mau nanya, habis sekolah ataupun habis kuliah, mau ngapain?

Pasti cari kerja.

Nah, cari kerja itu tergantung. Mau dijalan swasta atau dijalan negeri. Wiraswasta atau pegawai negeri.

Tapi kebanyakan orang bakalan melamar diperusahaan untuk menjadi karyawan swasta, setelah gagal menjadi pegawai negeri. Kebanyakan. hehe.

     Pertanyaannya lagi, kenapa orang lebih memilih untuk menjadi pegawai negeri daripada karyawan swasta?

Tentu aja dong orang lebih memilih pegawai negeri. Gajihnya selangit.

     Berkaitan dengan pegawai negeri. Masyarakat sering mempertanyakan kinerja mereka, apakah sebanding dengan gajih mereka? Namanya juga pelayan publik, wajarlah dikritik. Tapi mereka itu macam-macam, ada yang kerja serius dan ada yang kerja gak serius, itu alami men.

Nah, dipemerintahan baru. Untuk kinerja pegawai  negeri di efektifkan. Bahkan pengadaan rapat di hotel-hotel mewah yang dibiayai pemerintah, ditiadakan. Mendengar hal itu banyak opini masyarakat yang bertebaran.

Masyarakat biasa : "Mampus tuh gak bisa seneng-seneng lagi hehe".

Karyawan swasta cuci mobil : "Biasa aja".

Karyawati warung jablay : "Kopi tetep harga 20ribu secangkir, gak ngaruh".

Karyawan Hotel : "Sangat merugikan. Sebagian besar omzet yang kami dapatkan, adalah dari situ".

Gue terpaku pada pernyataan si karyawati warung jablay, eh, karyawan hotel maksud gue.

     Bener sih pemerintah, memang melakukan hal itu untuk ke efektifitas an kinerja pegawai negeri. Tapi, sebelum bertindak pasti ada resiko. Untuk rapat diperhotelan di tiadakan, tapi gajih pegawai negeri dinaikan. "Demi ke efektifitas an kinerja pegawai negeri".

Pemerintahkan bertanggung jawab atas apa yang ada dalam negaranya, semuanya.
Pegawai negeri emang harus dipikirkan. Tapi problem lain harus dipikirkan juga. Contohnya dampak yang dirasakan bidang bisnis perhotelan karena hal itu. Gue cuma bicarain dan cari info dibisnis hotel aja, gak dibisnis lain. Jadi, gak usah mikir macam-macam.

     Sekarang gue baru dapat kabar, bahwa perhotelan banyak yang melakukan "PHK besar-besaran" kepada karyawannya, agar menyeimbangan pendapatan mereka. Dan pengangguran bertambah lagi di Indonesia.

(Thanks google atas fotonya)