Saat ini gue menuju kota tua yang ada di kota Jakarta, gue duduk didalam kereta api bersama beberapa temen yang sudah lama tinggal di Jakarta. Diperjalanan gue merasa nyaman, suasananya seperti di Jepang (Gue gak pernah ke Jepang).
Tiba-tiba saja pandangan tertuju disuatu tempat. Suatu tempat yang sering menjadi sasaran penggusuran satpol pp dan penggusuran itu sering gue lihat di berita televisi. Secara mendadak gue namain tempat itu adalah PERKAMPUNGAN PINGGIRAN REL KERETA API.
"Kebanyakan mereka yang tinggal disana adalah perantauan yang kebingungan setelah sampai di Jakarta. Bahkan, sekarang mereka banyak menjadi pengemis jalanan. Tanah yang mereka tinggali, adalah tanah tanpa surat" Salah satu temen diperjalanan ini memberikan informasi ke gue.
Banyak yang berpikir TINGGAL DI IBU KOTA ADALAH SALAH SATU JALAN MENUJU KESUKSESAN, tidak semuanya hal itu benar. Kota besar itu terlalu keras. Seseorang yang mempunyai bekal dari kampungnya saja di Jakarta bisa jadi lonte, apalagi yang gak punya bekal. Tapi, kalau ke Jakarta membawa bekal takdir, boleh juga sih sebagai alternatif hidup atau mati?
Mengingat kembali penduduk pinggiran kereta api, gue berpikir "Nenek moyang mereka yang sebelumnya merantau dan akhirnya sampai di Jakarta. Tapi sayangnya mereka gagal, dan menempati dan bahkan menciptakan perkampungan pinggiran rel kereta api lalu menempatinya." Itu artinya, mereka akan berkembang biak disana. Dan seterusnya akan menjadi kebiasaan. Kalau begitu caranya, penggusuran akan terus menjadi tontonan biasa dimata masyarakat Indonesia.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar